Berita Utama

Kainadi, pantai sejuta history

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Ba,a, METROTIMOR.com–Terletak di ujung barat desa Sotimori, pantai yang diberi nama Kainadi ini menyimpan kisah kedatangan bangsa Eropa di pulau Rote. Kisah tersebut diperkirakan terjadi pada tahun 1500-an yang menyisahkan jejak sebuah jangkar kapal dan satu rumpun pohon Kurma. Kini, melalui kehadiran mahasiswa KKN semester ganjil Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, memotivasi pemerintah desa Sotimori untuk membangun pantai Kainadi menjadi destinasi wisata.

Panorama alam (sunset) di pantai Kainadi

Keindahan pantai Kainadi memang belum banyak diketahui. Selain jarak dan belum memadainya akses jalan untuk menjangkau tempat ini, tetapi di balik keindahannya terselip kisah yang tak bisa diabaikan.

 

Kononnya, ada sebuah kapal yang bernama ‘Maderhans’ pernah menyinggahi pelabuhan tersebut sekitar tahun 1500-an. Entah apa yang diinginkan saat itu, tetapi kapal itu diyakini warga adalah milik bangsa Portugis.

 

Banyak sekali cerita sejarah maupun mitos yang berkembang di balik kedatangan bangsa Portugis kala itu di pulau Rote. Diantaranya, hanya sekedar singgah untuk melanjutkan pelayaran selanjutnya, dan ada pula yang mengatakan bahwa mereka (Portugis) sedang menghindar dari kejaran musuh.

 

Tetapi ketika ditilik dari fakta sejarah, maka bangsa Portugis boleh dibilang ‘raja samudera’. Dimana pada tahun 1511 hingga 1526, Nusantara menjadi pelabuhan maritim penting bagi kerajaan Portugis. Bahkan setelah mengalahkan kerajaan Malaka, Portugis melanjutkan pelayaran hingga ke Maluku dengan misi perdagangan, dominasi militer dan penyebaran agama (feitoria, fortaleza dan igreja).

 

Kehadiran bangsa Portugis di perairan maupun di kepulauan Indonesia, meninggalkan jejak-jejak sejarah yang hingga saat ini tetap dipertahankan oleh warga setempat. Seperti halnya di pantai Kainadi yang merupakan wilayah dari Desa Sotimori Kecamatan Landu Leko Kabupaten Rote Ndao.

 

Di pantai ini (Kainadi) terdapat dua peninggalan Portugis yaitu sebuah jangkar kapal dan satu rumpun pohon Kurma. Kononnya, jangkar tersebut ditinggal pergi karena saat itu sedang terjadi badai (gelombang besar) sehingga tak sempat mengangkat jangkar tersebut tetapi dipotong tali pengikatnya dari kapal. Sedangkan pohon Kurma menandakan bahwa Portugis pernah menginjakan kaki di daratan pulau Rote.

 

“Ini adalah jangkar kapal Maderhans yang waktu itu singgah di sini sekitar tahun 1500-an. Selain ini (maksudnya jangkar) ada juga pohon Kurma dan itu mereka (Portugis) yang tanam sendiri”, demikian Kepala Desa Sotimori Aser Bulan sedikit mengisahkan sambil menunjukan keberadaan kedua peninggalan tersebut.

 

Ditambahkannya bahwa, hingga kini walau belum ada yang bisa memastikan data waktu dan kegiatan yang dilakukan Portugis sewaktu tiba di pantai Kainadi, tetapi dirinya mengakui bahwa di pantai Kainadi-lah bangsa Eropa tersebut pernah melabuhkan kapalnya.

 

“Mungkin sebelum ke sini, kapal Maderhans pernah singgah di pelabuhan lain. Tetapi kedua peninggalan ini merupakan bukti bahwa di pantai ini (Kainadi) Portugis pernah singgah”, imbuhnya menambahkan.

 

Siap dipoles menjadi destinasi wisata

 

Selain menyimpan kisah sejarah, pantai Kainadi juga memiliki panorama pantai yang indah. Terdapat bentangan pasir putih yang diapit bebatuan yang menyerupai benteng berjejer kokoh di tepi pantai kian menambah keelokannya.

 

Ya, pantai ini begitu indah dan mempesona, serta mampu membuat terpana setiap mata ketika berada di tempat ini. Bahkan tak ada untaian yang selaras untuk mengucapkan keindahannya, selain ungkapan “sungguh Tuhan luar biasa dengan segala diciptakanNya”.

 

Dengan keindahan yang dimiliki pantai ini (Kainadi) kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Nusa Cendana Kupang (Undana) semester ganjil di Desa Sotimori berhasil memotivasi pemerintah desa Sotimori untuk membangun dan mengembangkan pantai Kainadi sebagai objek wisata.

 

“Kami sebagai pemerintah desa sangat berterima kasih kepada adik-adik mahasiswa KKN dari Undana yang berjumlah 14 orang, karena telah memberi sprit untuk membangun destinasi wisata di desa kami. Hal ini dimulai dengan dibangunnya tiga buah lopo oleh adik-adik ini sehingga kedepannya kami harus melanjutkan pembangunannya”, papar Kepala Desa Sotimori Aser Bulan.

 

Menurutnya selain mengembangkan potensi wisata alam di pantai Kainadi, tindakan pembangunan yang hendak dilakukannya adalah untuk melestarikan peninggalan sejarah yang masih ada. Dengan demikian, dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi setiap pengunjung yang berwisata di pantai Kainadi.

 

“Sejarah (Jangkar dan pohon Kurma) ini akan menjadi daya tarik bagi pengunjung. Karena keindahan atau panorama pantai mungkin telah banyak dikunjungi wisatawan. Tetapi bukti sejarah hanya terdapat pada tempat tertentu, salah satunya di tempat ini”, demikian Aser Bulan menambahkan

 

Senada dengannya, perwakilan mahasiswa KKN Jemsis Fia berharap agar pemerintah daerah Kabupaten Rote Ndao dapat memperhatikan akses jalan menuju pantai Kainadi. Dengan demikian, objek wisata ini semakin ramai dikunjungi dan berdampak pada perekonomian masyarakat desa setempat.

 

“Saya berharap, pemerintah Kabupaten Rote Ndao dapat memperhatikan akses jalan menuju pantai Kainadi untuk memperlancar lalu-lintas pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam tempat ini. Jika sarana tersebut telah memadai, maka masyarakat sekitar bisa memanfaatkan untuk meningkatkan perekonomiannya”, papar Jemsis penuh harap.

 

Untuk diketahui kehadiran ke-14 mahasiswa KKN Undana semester ganjil tahun 2019 di desa Sotimori selama kurang lebih satu bulan. Dalam kurun waktu tersebut, mereka telah membangun tiga buah lopo serta beberapa spot foto khas pantai lainnya. Ke-14 mahasiswa tersebut adalah Andris Manafe, Afni M. Atti, Anjelina Lidia Bouk, Desia Marsi Kofan, Frensensi A. Date Meze, Jemsis F. O. Fia, Megaliana B. Polin, Merianti Zacharias, Ningsi Hayon, Resty Ndolu, Riska Kapitan, Sintya G. Adu, Thobias Merukh dan Wempi Balukh.

 

Kini, waktupun telah menyudahi masa KKN mereka di desa Sotimori. Walau tak sedikit warga yang masih menginginkan keberadaannya untuk berbagi pengalaman bersama, tetapi mereka harus kembali untuk melajutkan sisa perjuangannya. Dan sebelum meninggalkan tempat KKN, Pemerintah dan Masyarakat Desa Sotimori menggelar acara malam perpisahan pada 31 Agustus 2019 lalu.

 

“Teruslah berjuang untuk menggapai mimpimu. Dan ketahuilah, bahwa kami masyarakat Desa Sotimori sangat bangga bisa bertemu dengan kalian semua”, begitulah makna yang terpancar dari sorot mata warga desa Sotimori yang bersalaman dengan mahasiswa KKN di punghujung acara perpisahan. (Max Saleky)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top