Humaniora

Setahun kepergian Kadis PMD

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Maut di jalan Ne’e, sisahkan duka menyayat hati

Maut memang sesuatu yang sangat menakutkan. Karenanya, tak sedikit manusia yang berusaha untuk mengindarinya. Tetapi sehebat apapun usahanya, hidup tetap selangkah dengan maut.

Jalan hidup setiap yang masih hidup tak dapat diterka. Ketika tiba waktunya, sang pemilik kehidupan berkuasa penuh untuk mengambil kembali ciptaanNya. Apapun bentuk dan caranya, Dia memiliki cara tersendiri untuk mengatur semua yang telah diciptakanNya. Kendatipun terasa ‘tidak adil’ terhadap keputusan yang sudah dibuatNya, namun insan beriman patutlah mensyukuri bahwa selalu ada pelangi setelah hujan mengguyur.

Kematian tak pernah meninggalkan kisah yang membahagiakan. Tangis pilu bahkan duka yang mendalam menjadi suasana khas di setiap ‘tenda duka’. Bahkan hingga beberapa waktu berlalu pun kesan dukacita tersebut terus terbawa dalam aktifitas keseharian.

Sebagai manusia yang dilahirkan, sudah ditetapkan saat dan waktu bahkan cara untuk mengalami kematian itu sendiri. Ada yang dilahirkan langsung menemui ajalnya (meninggal), ada pula yang tak ‘diijinkan’ hidup sebelum dilahirkan. Bahkan ada begitu banyak kejadian tragis lainnya yang membuat manusia harus meregang nyawa. Apapun bentuk dan caranya, kematian seseorang merupakan misteri yang tak mungkin terpecahkan. Karena manusia hanya diberi ‘mandat’ untuk menjalani kehidupannya.

Ne’e adalah sebuah dusun kecil yang merupakan salah satu wilayah di desa Sanggaoen Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao. Tempat inipun kemudian berkembang pesat karena dibangun beberapa bangunan penting di Kabupaten ini (Rote Ndao). Sehingga penamaan ruas jalan Ne’e diambil dari nama tempat (dusun) dimana ruas jalan tersebut dibangun.

Ruas jalan Ne’e mendadak viral, karena menjadi saksi bisu kecelakaan maut yang merenggut nyawa Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Rote Ndao, Jermia A. J.  Mesakh, SE. Tak hanya di dunia maya yang mulai banjir ber-update status berbelasungkawa. Di dunia nyatapun tak kalah ramainya dipadati banyak orang persis di tempat kecelakaan. Mereka yang datang berbondong bukan untuk menyaksikan objek kecalakaan, tetapi sebagai wujud empati sekaligus membuktikan kebenaran informasi yang menyebar luas di sosial media.

Di Tempat Kejadian Perkara (TKP), terlihat sebuah mobil Hylux berwarna hitam dengan Nomor Polisi (Nopol) DH 33 YU, telah terjungkal keluar dari ruas jalan sekitar 17 meter. Pengendara mobil tersebut diduga hilang kedali sehingga tidak bisa mengendalikan kecepatan mobil yang dikendarainya.

Akibatnya, kecelakaanpun tak terhindarkan. Mobil Hylux yang sebelumnya mulus dan sangat nyaman untuk dikendarai, harus ringsek setelah terjun bebas hingga terpelanting beberapa kali. Bagian depan mobil tersebut mengalami kerusakan paling parah dibanding bagian lainnya karena benturan keras. Bahkan semua bagian (luar/body) dari mobil Hylux ini harus diperbaiki/diservice setelah kecelakaan maut tersebut.

Sontak, setelah informasi ini beredar luas, handai tolan, kerabat terlebih keluarga tak kuasa menerima kenyataan hidup yang teramat pahit ini. Kenyataan bahwa sosok yang dibanggakan pada pagi harinya pergi bekerja seperti hari-hari sebelumnya, telah kembali dengan kondisi tak bernyawa.

Tangis pilu dalam sedih yang mendalam memecah heningnya malam itu. Suasana malam yang seharusnya sosok Jermia A. J. Mesakh kembali ke rumah sebagai Kepala Keluarga berubah seketika. Dia telah pergi dan takkan pernah kembali. (***)

 

Murni Lakalantas tunggal

Setelah kejadian kecelakaan maut di ruas jalan Ne’e (Kamis, 5 Juli 2018), anggota polisipun mulai tiba di Tempat Kejadian Perkara untuk melakukan olah TKP.  Garis polisi dipasang untuk membatasi ruang gerak warga pada wilayah yang hendak diselidiki guna mendapatkan gambaran tentang kecelakaan maut tersebut.

Hasil olah TKP menyebutkan bahwa kejadian tersebut merupakan kecelakaan tunggal. Dimana kendaraan dikendarai sendiri oleh Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Rote Ndao, Jermia A. J. Mesakh, SE mengalami kecelakaan sendiri (tunggal) tanpa bertabrakan atau terdapat kendaraan lain yang mengakibatkan kecelakaan tersebut.

“Ya, kecelakaan tersebut adalah murni kecelakaan tunggal. Dimana yang mengemudi mobil Hylux dengan Nomor Polisi (Nopol) DH 33 YU adalah Bapak Jermia A. J. Mesakh, SE, dan mengalami kecelakaan di jalan Ne’e. Selain itu, diperkirakan kecepatan mobil yang dikendarainya berkisar 60 hingga 70 km/jam”. Demikian Kepala Satuan Lalu Lintas (Kasat. Lantas) Polres Rote Ndao, IPTU. Febria Eko Putra, S.Ik berketerangan.

Masih tentang Lakalantas tersebut, ditambahkannya bahwa kecelakaan maut tersebut diduga akibat rem blong sehingga menyebabkan pengendara sulit untuk mengendalikan kendaraannya. “Dari hasil olah TKP dapat disimpulkan bahwa kecelakaan tersebut dapat terjadi karena beberapa hal, salah satunya adalah akibat rem dari kendaaran/yang dimiliki tidak berfungsi secara maksimal (rem blong), imbuhnya menambahkan. (***)

 

Kepala Desa berbelasungkawa

Sedih mendalam dirasakan keluarga atas kecelakaan maut yang merenggut nyawa Jermia A. J. Mesakh. Kepergiaan sosok yang sangat bersahaja itu menggores duka mendalam bagi banyak orang. Selain keluarga, handai tolan dan kerabat, para kepala desa pun turut merasakannya. Duka terdalam itu dinyatakan dalam bentuk ungkapan belasungkawa.  Bahkan foto almarhum Jermia A. J. Mesakh, SE, ‘diabadikan’ pada setiap baliho transparansi APBDesa Tahun Anggaran 2018. (***)

 

 

Jermia sempat berkantor sebelum dijemput ajal

Tak disangka bahwa kala itu (5 Juli 2018 lalu) adalah kesempatan terakhir untuk bertegur sapa dengan pak Kadis. Semuanya terjadi begitu cepat dengan berputarnya waktu, sehingga tak satu pun berkesempatan bersamanya hingga akhir hidupnya. Kendatipun tak sedikit yang tidak menyakini kejadian itu, tetapi kenyataannya bahwa Kepala Dinas PMD Kabupaten Rote Ndao telah ‘berpamitan’sebelum menemui ajalnya dalam kecelakaan maut.

Kemeja putih berlengan panjang dipadukan dengan celana berwana hitam kecoklatan serta kaca mata hitam, adalah busana yang dikenakan Jermia A. J. Mesakh, SE, setelah memasuki pintu depan instansi yang dipimpinnya. Tangan kirinya menggenggam Hand Phone, ayunan kaki terlangkah pelan untuk menghampiri beberapa Kepala Desa bahkan tetamu lain yang hendak menemuinya.

Senyum khasnya mengisyaratkan ungkapan selamat pagi yang ditunjukan melalui raut wajahnya sambil bersalaman dengan tetamu. Percakapan kecil mulai terjadi bahkan ada canda ringan dilakukannya sesaat sebelum memasuki ruang kerjanya. Dan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Rote Ndao ini mulai beraktifitas seperti biasanya.

Rutinitas hari itu memang terlihat  cukup padat dengan beberapa agenda penting. Beberapa surat mulai didisposisikan, hingga bergantian tetamu berkesempatan untuk menyampaikan maksud dan tujuannya masing-masing. Terbanyak berkonsultasi terkait penyelenggaraan pemerintahan di desa.

Beragam memang aktifitas saat itu sehingga semua yang berkesempatan untuk bertegur sapa dengan Jermia A. J. Mesakh, SE tak menyadari bahwa sebentar lagi sosok yang berada di hadapannya tidak ‘terlihat’ lagi. Tak ada gelagat atau keadaan gesturnya yang menggambarkan bahwa waktu hidupnya (Jermia) tinggal beberapa saat lagi.

Itulah takdir yang telah ditakdirkan kepadanya. Takdir untuk mengakhiri hidup dengan beraktifitas kedinasan sesaat sebelum ‘menjumpai’ batas hidup merupakan ungkapan ‘selamat tinggalnya’. Tetapi tetap saja teramat sulit untuk dipahami.

Demikian yang ditakdirkan kepada Jermia A. J. Mesakh, SE. Sebelum dijumpai takdirnya, Jermia masih beraktifitas sekaligus ‘berpamitan’ dengan semua rekan kerjanya di DPMD. Kendatipun belum ada yang mampu memahami makna keberadaannya kala itu, tetapi tejawab sudah setelah kecelakaan maut yang dialaminya, sehingga keluarga besar Dinas PMD Kabupaten Rote Ndao dirundung duka teramat pilu. (***)

 

Masih bercanda beberapa saat

“Sebelum masuk ruang kerjanya, Pak Kadis sempat memanggil saya. Di dalam ruangan, beliau (Jermia A. J. Mesakh) lebih duluan menyapa saya dengan sapaan khasnya, mari pak Kabid, kemudian mempersilahkan saya duduk. Setelah itu kami membahasa urusan kerja”, demikian Kepala Bidang Teknologi Tepat Guna Dinas PMD Kabupaten Rote Ndao, Handryans Bessie, S.Ip (kini Kabid. Pemdes), mengisahkan.

Bahkan dalam perbincangan tersebut kami masih bercanda. “Pak Kadis memang memiliki selera humor, sehingga selalu menyelipkannya dalam setiap pembicaraan”, lanjutnya menambahkan. Namun apa ayal,  candaan tersebut kemudian menjadi candaan terakhirnya. Jermia A. J. Mesakh telah pergi membawa semua candaan khasnya.

(Max-Ido)

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top