Humaniora

Mengenang sosok Jermia A. J. Messakh, SE

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

Kenangan yang tak lekang

Gajah mati meninggalkan gading, Harimau mati meninggalkan belang. Demikian pepatah klasik ini dapat disejajarkan dengan kisah Jermia A. J. Mesakh. Walaupun ia telah tiada namun ‘jejak’ yang pernah ditapakinya tetap indah untuk dikenang.

Tentang kisah hidup, baik dan buruknya adalah hal manusiawi. Terkadang manusia harus ‘diijinkan’ belajar dari kesalahannya untuk menata hari esok yang lebih baik. Dengan demikian, tak satupun manusia yang tidak pernah luput dari hal berbuat salah. Karena sehebat apapun manusia, dia hanya diciptakan dari debu dan tanah.

Jermia A. J. Mesakh misalnya. Dilahirkan dari keluarga sederhana di Thie pada tanggal 6 Januari 1968 membuatnya ‘tahan banting’ terhadap getirnya perjalanan hidup. 27 (dua puluh tujuh tahun) bukan waktu yang singkat dalam menapaki tapak perjalanan sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS). Banyak kisah telah dilewati, dan tak sedikit cerita indah yang sudah dilukiskan saat itu. Semuanya tetap abadi dalam story kehidupan Jermia A. J. Mesakh.

Ditakdirkan untuk memiliki pendamping hidup bernama lengkap Sip Efrida Serah, Jermia mengikrarkan janji suci pernikahan dihadapan hamba Tuhan dan disaksikan para jemaatnya. Jermia kemudian menjadi seorang suami yang bertanggung jawab terhadap keluarga barunya.

Bahtera rumah tangga yang telah dibangun itu kemudian ‘bertolak’ mengarungi samudera kehidupan yang begitu luas. Jermia yang berkapasitas sebagai ‘nahkoda’, ditantang untuk sigap dalam setiap keadaan yang kadang tak menentu. Dan dari beberapa catatan, mengisahkan beberapa pelabuhan bahagia yang sudah dilaluinya.

Catatan kebahagiaan dimulai dari lahirnya anak pertama pada tanggal 7 Agustus 1992, kemudian anak kedua pada 18 September 1996.  Dalam suasana merasakan kebahagiaan, tetap saja didera ‘gelombang’ kehidupan. Beragamnya terjangan saat itu, kesigapan seorang juru mudi dipertaruhkan. Dan Jermia A. J. Mesakh telah membuktikannya, bahwa ia (Jermia) berhasil melabuhkan bahteranya pada setiap pelabuhan yang ditujui.

Sebelum mengakhiri hayatnya, Jermia Messakh telah dianugerahkan 6 orang anak yang terdiri dari 5 orang anak laki-laki, yakni : Jefri B. S. Messakh, Johan C. A. Messakh, Dilivio P. A. Messakh,  Filamoris Messakh, dan si bungsu Sarisandu Messakh, serta  seorang putri semata wayang Tesalonika N. Messakh yang terlahir sebagai anak ke empat. (***)

 

Start PNS di Timor-timur

Meniti karier adalah perjuangan selama menjalani kehidupan. Kadang harus berhenti sejenak untuk merenung ‘nasib’ ketika tiba di persimpangan jalan sebelum memulai perjalanan berikutnya. Dan cerita panjang tentang jalan hidup di dunia ini dimiliki setiap orang sekaligus sebagai referensi hidup bagi generasi yang sementara menjalani kehidupan.

Tanggal 1 Maret 1991, suasana sukacita melingkupi perasaan Jermia A. J. Mesakh. Pasalnya, terhitung saat itu, Jermia sudah bisa berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan ditempatkan sebagai teknisi peternakan di Kantor Wilayah (Kanwil) Deperatemen Peternakan Provinsi Timor-Timur yang saat adalah Timor Leste.

Lambat laun, setapak lagi posisi karier mulai menanjak. Dari teknisi, posisi Kepala Sub Bagian Tata Penyuluh pada Dinas Peternakan Kabupaten Viqueque mulai ditempati dari tahun 1993 hingga tahun 1999. Selanjutnya di tahun 2007-2010, Jermia A. J. Mesakh, SE, dipercayakan untuk mengemban tugas sebagai Kepala Seksi (Kasie) Pencegahan dan Pemberantasan pada Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao.

Memang benar kata orang, kepercayaan hanya diberikan kepada orang yang layak dipercaya. Bahkan untuk menjadikan diri agar dapat dipercaya tak semudah membalikan telapak tangan. Rekam jejak adalah indikator paling mendasar untuk menerima sebuah kepercayaan. Begitulah yang telah dilewati oleh ayah beranak enam orang anak ini.

Tapak kariernya (Jermia A. J. Mesakh) tak terhenti di situ saja. Tiga tahun berselang, (2013-2015), Jermia kemudian dipercayakan untuk menjabat sebagai Kepala Sub Bagian pada Dinas PPKAD Kabupaten Rote Ndao.

Perjalanan panjang dan mungkin saja sangat melelahkan itu telah meninggalkan tapak dari pria yang doyan akan rokok berlabel 234 ini saat melangkah. Tapaknya  terus diayunkan untuk menggapai mimpi yang diidamkan. Hal tersebut dibuktikan dengan rentetan posisi yang telah ditempati.

Di tahun 2015 hingga akhir hayatnya (2018) tanggung jawab dua posisi penting diemban. Kabag. Umum Setda Kabupaten Rote Ndao dan Kadis PMD Kabupaten Rote.

Terima kasih Pak Jermia A. J. Mesakh, SE. Jika dari batu kami belajar ketegasan, maka caramu telah menunjukan itu. Bahkan setiap keputusanmu meneladani prinsip air yang sebenarnya, yakni tenang dan menyejukan. (***)

Tangis pilu di ‘tenda duka’

Hati siapa yang kuat menahan sedih ketika melihat orang yang dikasihinya terbujur kaku dengan mata terpejam?. Dipanggil, disapa bahkan dibelaipun, tetap diam dalam bahasanya. Oh Tuhan, mengapa begitu cepat Kau mengambilnya? Padahal kami masih sangat membutuhkannya. Tetapi kini, kami harus belajar merelakan kepergian sosok yang memiliki seribu canda itu.

 

Kematian adalah sebuah peristiwa iman untuk membentuk ketabahan dan keiklasan. Memang teramat pilu rasanya, ketika melihat orang yang amat dicintai harus menerima takdir ini untuk kembali menghadap sang khalik. Tetapi inilah kehendakNya yang tak terbantahkan. Karena jalan hidup semua kita telah ditentukan melalui kehendak Ilahi

Jermia A. J. Mesakh telah almarhum. Kepergiaannya takan pernah kembali sehingga memilukan hati keluarga, handai tolan, dan para kerabat yang ditinggalkan. Kepergiaannya hanya menysisakan kenangan yang hanya bisa diingat-ingat. Kenangan indah bersamanya adalah bukti bahwa begitu besar kemurahan yang dianugerahkan Tuhan semasa hayatnya masih dikandung badan. Kemurahan dalam pengabdian selama menjadi abdi Negara.

“Papa..!! mengapa begitu cepat pergi tinggalkan kami bersama mama di sini? Bukankah papa pernah bilang bahwa papa selalu ada di samping kami? Tapi inilah kenyataan yang harus kami hadapi.

Sungguh teramat berat untuk mengiklaskan papa pergi jauh”. Demikian suasana sedih yang dirasakan oleh semua pelayat di bawah ‘tenda duka’ terlebih anak-anak almarhum ketika peti jenazah hendak ditutup.

Tangis pilu itu semakin menyayat hati tatkala satu per satu anggota keluarga memberikan pengormatan terakhir dengan menaburkan bunga di liang lahat. “Selamat jalan pendamping hidupku, bersamamu dalam menapaki kehidupan ini adalah kebanggaan yang terus dibanggakan. Tenanglah dalam tidur panjangmu”. Begitulah ungkapan kesedihan yang terpancar dari wajah istri tercinta Sip Efrida Serah, sesaat setelah menaburkan bunga.

Duka mendalampun menjadi bagian anak-anaknya. Pasalnya, sebentar lagi sosok yang selalu dibanggakan itu akan ‘ditelan’ dalam perut bumi. Tak banyak yang disampaikan. Hanya permohonan maaf dan ungkapan terima kasih yang terbungkus dalam tangis terisak. “Maafkan kami papa.  Hanya di sinilah kami mengantarmu. Walau besok hanya pusaramu yang terlihat, tetapi nasehatmu tak pernah hilang bersama kepergiaanmu. Kami bangga terlahir sebagai anak-anakmu”. Demikian bahasa sedih yang terlihat pada gestur anak-anak Jermia Messakh. (***)

 

Tak ada kematian yang bisa ditawar

Kematian merupakan sesuatu yang pasti setelah adanya kelahiran. Entah bentuk, cara bahkan kapan dan dimana, merupakan misteri yang tak mungkin terdekteksi melalui ilmu pengetahuan dan teknologi canggih sekalipun. Oleh sebab itu, biarlah semua yang masih menikmati kemurahan Tuhan atas hidup ini tidak menyia-nyiakan kesempatan yang diberikanNya, agar ketika dijemput kematian, hidup kita telah menjadi berkat.  Demikian makna khotbah Pendeta Jhon Famaney, S.Th, pada ibadah pemakaman jenasah almarhum Jermia A. J. Mesakh, SE (Minggu, 8 Juli 2018)

Andai saja sebuah kematian bisa ditunda atau ditawar, dipastikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Rote Ndao, Jermia A. J. Mesakh, SE belum bisa berkesempatan saat itu. Tetapi hukum Tuhan tetap ‘YA dan Amin”. Segala yang dibuatNya selalu baik adanya. Kendatipun terasa tidak adil bagi manusia, tetapi itulah kehendak Ilahi. Kehendak yang selalu ada rencana indah di balik setiap peristiwa. Bahkan pada peristiwa duka sekalipun. (Max-Ido)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top