Berita Utama

Merajut Mimpi Kesembuhan: “Ema, Go Lela Kae” Mery Niron Menangis Pasrah

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

LARANTUKA, METROTIMOR.com–Hati seorang ibu ibarat pelabuhan. Tidak sekedar tempat melabuhkan, menambatkan  keluh kesah dan suka duka melainkan sumber kekuatan dan pengharapan bagi  keluarga terutama bagi sang anak yang tengah tergolek sakit.

“Mama, goe lela kae”  (mama saya sudah capek). Kalimat ini akan terdengar biasa-biasa saja apabila terlontar dari seorang pendaki gunung ataupun rider top.
Maknanya akan terasa lain bila diucapkan seorang anak  yang tengah bergulat dengan rasa sakit tak terperihkan kepada ibunya. Menyayat,  miris memang.

Kalimat setengah terbata, nyaris tak terdengar tepatnya rintihan pilu terucap lemah dari sepasang bibr pucat milik Albertus Puka. Remaja kelahiran  Malaysia ini, tengah bergulat menahan rasa sakit tumor yang menggorogoti kaki kirinya  setengah tahun terakhir tepatnya Januari silam.
Ucapan Albert, persis ribuan watt arus listrik menyengat kalbu Maria Niron ibu kandung Albert. Meri hanya bisa menangis pasrah dalam penantian sebelum dirujuk ke salah satu rumah sakit di Kota Kupang.

Disambangi Metrotimor dikediaman kerabatnya Jumad, 27 Juli 2018 Kelurahan Puken Tobi Wangi Bao Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur.
Wajah Meri terlihat kuyuh, pandangannya datar tanpa makna. Kepada awak media, wanita eks buruh migran Malaysia ini berkisah sudah seminggu dirinya bertahan  di Larantuka, ibu kota kabupaten menemani  anak lelaki semata wayang sambil melengkapi berkas administrasi sebelum dirujuk ke Kupang.
‘”satu minggu sudah saya di sini. Masih urus surat-surat. Nanti mau di bawa ke Kupang”, ucap Meri lirih.

Kesedihan dan kegundahan hati  Mery,  seakan tak berpupus. Tidak saja memikirkan masa depan Albert, wanita  lulusan Sekolah Dasar ini terpaksa harus membagi  sebagian perhatian dan waktu bagi dua orang anak yang tertinggal di kampung Nurabelen.

“saya sedih memikirkan masa depan anak saya (Albert). Adik-adiknya masih kecil. Satunya tamat SMP, adiknya kelas 5 SD. Mau sambut baru.
mereka di kampung. Keadaan mereka bagaimana. saya tidak bisa tau setiap saat,” ujar Mery terbata.

Kisah sedih dan beban derita yang harus dipikul ibu empat orang anak ini,  semakin lengkap  dengan belum kembalinya sang suami dari perantauan. Otomatis, segala persoalan  rumah tangga plus solusi  menjadi tanggungjawabnya.
“Bapa Albert (suami) belum pulang. Masih di Kalimantan, dia kumpul uang buat biaya Albert”, sebut Mery sambil sesekali menyeka air mata.

Kesdihan Mery belum terhenti. Marlen, anak kedua buah cinta  dirinya dengan Yoseph Puka terpaksa tidak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah  Atas, dikarenakan sebagian jerih payah suami selama diperantuan terkuras bagi biaya pengobatan Albert.
“Anak kedua di rumah saja jaja adiknya yangvSD.  Tidak bisa ke SMA. Sudah tdakk ada uang. Bapaknya kirim uang bayar obat Albert”

Kegundahan hati sang ibu dan beban hidupnya  terus bertambah. Tidak sekedar seorang diri menghadapi tumpukan persoalan mencari solusi melakoni peran ganda sebagai ayah dan ibu sekaligus  tetapi bagaimana mensiasati kondisi yang ada menjadi lebuh baik. Pasalnya 26 Agustus 2018 mendatang anak bungsunya Ira,  bakal menerima Sakramen Ekaristi Kudus lasim di sebut Sambut Baru.
Hampir pasti, peristiwa sakral sekali seumur hidup bagi puteri bungsunya tanpa kehadiran sang Mama Maria Niron.
Dalam situasi yang serba tak menentu,  Mery tidak putus asa. Pendidikan terbilang minim, ekonomi tak menentu tapi ibu ini percaya masih ada  cinta dan perhatian dari sesama bagi keluarganya.

Benar apa yang dikatakan Agus Boli. Hidup itu perlu kepekaan. Hidup tidak hanya untuk diri sendiri tetapi bermakna bagi sesama. (*BNY).

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top