Berita Utama

“RAMADHAN DI IBARATKAN ADALA SEBAGAI SEBUAH MADRASAH DAN MENJADIKAN BEKAL DALAM MENGARUNGI KEHIDUPAN MENDATANG

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

“Hiasilah hari rayamu dengan takbir” Takbir kita tanamkan ke dalam lubuk hati sebagai pengakuan atas kebesaran dan keagungan Allah SWT sedangkan selain Allah semuanya kecil semata. kalimat tasbih dan Tahmid kita tujukan untuk mensucikan Tuhan dan segala segenap yang berhubungan dengan-Nya.

Demikianlah Sebagai bait pengantar dalam Khotbah Sholat I’d dalam Perayaan Hari Raya IDUL FITRI I SYAWAL 1439 H yang di gelar Di lapangan Umum Simpang Lima Kota Atambua Kabupaten belu yang di hadiri oleh seluruh umat muslim yang berjumlah -+ 2000 Orang(14/06/18) dan bertindak
Sebagai Imam Utama : Ustadz H Syarifudin Imam,
Khatib Utama : Ustadz H Ahmad Alkatiri, S.Ag dan
Sebagai ilal Utama : Ustadz Shobn’

Khatib : Ustadz H.Ahmad Alkatiri ,S.Ag dalam Khutbahnya Menyampaikan beberapa pesan kepada Umat Muslimin/ah yakni,,,
“Tidak lupa Puji syukur juga kita tunjukkan untuk Rahman dan Rahim-Nya yang tidak pernah pilih kasih kepada seluruh hambanya .sementara tahlil kita lantunkan untuk memperkokoh keimanan kita bahwa dialah Dzat Yang Maha Esa dan maha kuasa .seluruh alam semesta ini tunduk dan patuh kepada perintah-Nya

” Kepada Jamaah Idul Fitri rahimakumullah, Setelah satu bulan penuh kita menunaikan ibadah puasa dan atas karunia-nya pada hari ini kita dapat berhari Raya bersama maka sudah sepantasnya pada hari yang bahagia ini kita bergembira merayakan sebuah momentum kemenangan dan kebahagiaan berkat limpahan rahmat dan Magfiroh-Nya

Seiring dengan berlalunya bulan suci Ramadan banyak pelajaran hukum dan hikmah faedah dan Fatahillah yang dapat kita petik untuk menjadi bekal dalam mengarungi kehidupan yang akan datang jika bisa diibaratkan Ramadan adalah: Sebuah Madrasah. sebab 12 jam x 30 hari Mulai terbitnya fajar hingga terbenam nya matahari semula sesuatu yang halal menjadi haram. makan dan minum yang semula halal bagi manusia di sepanjang hari, maka di bulan Ramadhan menjadi haram.

Akan tetapi setelah semua cobaan yang kita lewati Pernahkah kita memperhatikan aspek sosial Ramadhan, semua orang yang pernah merasa kenyang tapi tidak semuanya pernah merasakan lapar.

Lihatlah kepada diri kita,, Bukankah seringkali kita merasa paling besar jumawa seolah-olah semua manusia kecil dan harus takluk di hadapan kita,, kita berlagak seolah-olah kita adalah Tuhan Yang Kuasa atas segala keadaan. tindakan Kita sadar tidak kita sadar bahwa kita sesungguhnya tidak lain adalah makhluk yang sangat sangat lemah, maka kepada siapa lagi kita berharap selain kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah menciptakan kita Dan dengan kasih sayang Allahlah kita diberi kesempatan menikmati hidup di dunia milik Allah.

” PESAN MORAL atau Tahdzibun Nafsi:
Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fit Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat.

Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adfalah naluri Syahwat.

Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

Pertama, sifat kebinatangan ( tanda-tandanya menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan tanpa rasa malu.)

Kedua, sifat buas( tanda-tandanya banyaknya kezhaliman dan sedikit keadilan. Yang kuat selalu menang sedangkan yang lemah selalu kalah meskipun benar. )

ketiga sifat, syaithaniyah;( tanda-tandanya mempertahankan hawa nafsu yang menjatuhkan martabat manusia)

Jika ketiga tiga sifat ini lebih dominan atau lebih mewarnai sebuah masyarakat atau bangsa niscaya akan terjadi sebuah perubahan tatanan sosial (keadaan masyarakat) yang sangat mengkhawatirkan. Dimana keadilan akan tergusur oleh kezhaliman, hukum bisa dibeli dengan rupiah, undang-undang bisa dipesan dengan Dollar, sulit membedakan mana yang hibah mana yang suap, penguasa lupa akan tanggungjawabnya, rakyat tidak sadar akan kewajibannya, seluruh tempat akan dipenuhi oleh keburukan dan kebaikan menjadi sesuatu yang terasing, ketaatan akhirnya dikalahkan oleh kemaksiatan dan seterusnya W. Sedangkan satu-satunya sifat yang membahagiakan adalah sifat rububiyah ( 43.334) ); ditandai dengan keimanan, ketakwaan dan kesabaran yang telah kita bina bersama-sama sepanjang bulan Ramadhan. Orang yang dapat mengoptimalkan dengan baik.

“Pesan kedua adalah: PESAN SOSIAL,,
Ramadhan ini terlukiskan dengan indah. Indah disini justru terlihat pada detik-detik akhir Ramadhan dan gerbang menuju bulan Syawwal. Dimana, ketikaumat muslim mengeluarkan zakat fithrah kepada Ashnaf-utsRamaniyah (delapan kategori kelompok masyarakat yang berhak menerima zakat), terutama kaum fakirmiskin tampak bagaimana tali silaturrahmi serta semangat untuk berbagi demikian nyata terjadi. Kebuntuan dan kesenjangan komunikasi dan tali kasih sayang yang sebelumnya sempat terlupakan tiba-tiba saja hadir, baik di hati maupun dalam tindakan. Semangat zakat fitrah ini melahirkan kesadaran untuk tolong menolong (ta‘awun) antara orang-orang kaya dan orang-orang miskin, antara orangorang yang hidupnya berkecukupan dan orang

“orang yang hidup kesehariannya serba kekurangan, sejalan hatinya”

“Dalam kesempatan ini orang yang menerima zakat akan merasa terbantu beban hidupnya sedangkan yang memberi zakat mendapatkan jaminan dari Allah SWT; sebagaimana yang terkandung dalam hadis Qurthubi:

Pesan pertama Ramadhan adalah Pesan moral atau Tahdzibun Nafsu

Artinya, kita harus selalu mawas diri pada musuh terbesar umat manusia, yakni hawa nafsu sebagai musuh yang tidak pernah berdamai. Rasulullah SAW bersabda: Jihad yang paling besar adalah jihad melawan diri sendiri. Di dalam kitab Madzahib fit Tarbiyah diterangkan bahwa di dalam diri setiap manusia terdapat nafsu/naluri sejak ia dilahirkan. Yakni naluri marah, naluri pengetahuan dan naluri syahwat.

Dari ketiga naluri ini, yang paling sulit untuk dikendalikan dan dibersihkan adfalah naluri Syahwat.

Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali berkata: bahwa pada diri manusia terdapat empat sifat, tiga sifat berpotensi untuk mencelakakan manusia, satu sifat berpotensi mengantarkan manusia menuju pintu kebahagiaan.

“Pesan ketiga adalah: PESAN JIHAD,,
Jihad yang dimaksud di sini, bukan jihad dalam pengertiannya yang sempit; yakni berperang di jalan Allah akan tetapi jihad dalam pengertiannya yang utuh, yaitu:

“Mengecilkan arti segala sesuatu yang dimilikinya demi mendapatkan keridhaannya, mendapatkan pahala serta keselamatan dari Siksa-Nya.”

Pengertian jihad ini lebih komprehensif, karena yang dituju adalah mengorbankan segala yang kita miliki, baik tenaga, harta benda, atapun jiwa kita untuk mencapai keridhaan dari Allah; terutama jihad melawan diri kita sendiri yang disebut sebagai Jihadul Akbar, jihad yang paling besar. Dengan demikian, jihad akan terus hidup di dalam jiwa ummat Islam baik dalam kondisi peperangan maupun dalam kondisi damai. Jihad tetap dijalankan.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan bukanlah jihad mengangkat senjata. Akan tetapi jihad mengendalikan diri dan mendorong terciptanya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera serta bersendikan atas nilai-nilai agama dan ketaatan kepada Allah.

Mengingat adanya aliran Islam yang mengkampanyekan jihad dengan senjata di negara damai Indonesia ini, maka perlu untuk ditekankan lebih dalam bahwa jihad seharusnya dilandasi niat yang baik dan dipimpin oleh kepala pemerintahan, bukan oleh kelompok atau aliran tertentu. Jangan sampai mengatasnamakan kesucian agama, akan tetapi tidak bisa memberikan garansi bagi kemaslahatan umat Islam. Islam haruslah didesain dan bergerak pada kemaslahatan masyarakat demi mencapai keridhaan Allah dan kemajuan ummat. Pengalaman pahit salah mengartikan jihad menjadikan Islam dipandang sebagai agama teroris. Padahal Islam sebenarnya adalah rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil alamin), agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, kedamaian.

Dalam konteks masyarakat Indonesia saat ini, jihad yang kita butuhkan adalah upaya mendukung terbangunnya sebuah sistem sosial yang bermartabat, berkeadilan dan sejahtera yang bersendikan pada ketaatan kepada Allah. Jihad untuk mengendalikan hawa nafsu dari seluruh hal yang dapat merugikan diri kita sendiri, terlebih lagi merugikan orang lain.

Dalam ibadah solat I’D dilapangan umum Atambua mendapat pengawalan keamanan dari pihak TNI dan Polri,Tokoh Agama,tokoh Masyarakat dan juga Tokoh pemuda/i Lintas Agama yang berada diwilayah kabupaten belu,,(Bgr)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top