Berita Utama

Peneliti Amerika Bidik Bahasa Daerah NTT yang Terancam Punah

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

KUPANG, METROTIMOR.COM—Di tengah angkuhnya cengkeraman modernisasi dan globalisasi yang menghimpit bahasa dan budaya daerah  di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), seorang ahli bahasa (Linguists) asal Benua Amerika, Piter Cole, tertarik untuk melakukan penelitian bahasa daerah di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam proyek penelitian tersebut, Piter Cole,  peneliti handal besutan ahli bahasa dunia, Noam Chomsky, berkolaborasi dengan dua orang ahli bahasa dari indonesia yang sudah cukup makan garam sebagai peneliti bahasa, yakni Jermy I. Balukh ,Putra NTT dan Yanti, peneliti asal  Jakarta, serta lima orang mahasiswa S-3 dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat.

Proyek penelitian yang rencanya akan diselenggarakan pada bulan juli mendatang, juga melibatkkan belasan putra – putri daerah dari 5 wilayah  yang akan dijadikan lokus penelitian bahasa yang terancam punah. Kelima daerah tersebut antara lain, Rote Bokai, Sabu, Sumba, Timor Molo dan Timor Kolbano.

Sebagai langkah awal  dalam mempersiapkan penelitian dan dokumentasi bahasa, pihak penyelenggara menggelar workshop  selama dua (2) hari, di Palapa Resto Kupang NTT, sejak 5 sampai 6 Januari 2018. Dalam workshop tersebut para instruktur yakni Jermi I.Balukh dan Yanti , mengajarkan pemahaman dasar tentang tekhnik pengumpulan dan pengolahan data menggunakan berbagai software, diakhiri dengan simulasi dan praktek .

Peserta workshop serius menyimak materi yang disampaikan Jermy I. Balukh (Instruktur)

Usai kegiatan, Jermy I. Balukh, kepada awak media, Sabtu (6/1) mengatakan kegiatan tersebut merupakan regenerasi bagi generasi muda yang nantinya akan melakukan riset-riset di daerah sehingga setiap keunikan bahasa daerah yang sudah hampir punah, bisa dieksplore lagi.

“NTT secara linguistik meiliki keunikan, misalnya 10 % bahasa di dunia ada di Indonesia, 10 % bahasa di Indonesia ada di NTT, dan keberagaan bahasa di NTT cukup besar karena ada 2 tipe bahasa yakni austronesia dan non austronesi, lalu dengan keberagaman itu menunjukan bahwa NTT sangat beragam, kalau semakin beragam maka semakin banyak keunikan yang perlu dilihat, itulah yang memotivasi para linguist dunia untuk meneliti dan melestarikan keberagaman tersebut”, jelas Jermy.

Menurut Jermy, keberagaman bahasa daerah dan budaya lokal nampaknya semakin hari menuju kepunahan, walau bagaimanapun usaha para linguist mendokumentasikan dan melestarikan bahasa begitu gencar, namun menurutnya, upaya pelestarian bahasa selalu lebih lambat dari proses kematian sebuah bahasa.

“Bahasa lebih cepat berproses menuju kepunahan dibanding upaya orang untuk mendokumentasikan, jadi kalau gerak lambat maka akan semakin banyak bahasa yang mati”, tandas Jermy.

peserta workshop serius mengikuti setiap rangkaian kegiatan

Dikatakannya, semakin multi lingual dan pengaruh modernisasi yang cukup tinggi membuat orang lebih cenderung untuk berpindah ke bahasa yang lebih dominan atau berprestise dibanding dengan bahasa daerahnya, hal tersebut menurutnya merupakan faktor punahnya sebuah bahasa daerah. Selain itu, faktor ekonomi juga memiliki peran dalam eksistensi bahasa dan budaya lokal.

“manusia pada umumnya berorientasi pada profit ekonomis, sehingga dengan berkembangnya ilmu dan tekhnologi maka orang cenderung meninggalkan bahasa daerah, terutama daerah terpencil, secara ekonomi tidak punya manfaat langsung”, katanya.

Dia berharap, generasi muda mengkaji kembali kearifan-kearifan lokal supaya bisa bernilai ekonomi, pasalnya, jika sudah bernilai ekonomis dan membawa manfaat maka orang akan melihat itu sebagai sebuah keuntungan kemudian orang akan kembali aktif menggunakan bahasa dan budaya lokal tersebut.

“Misalnya, dengan aktif berbahasa daerah, kearifan lokal dapat digali kembali, kemudian dengan perkembangan teknologi dan karya seni yang ada, orang menciptakan sesuatu dari daerah dibanding mengimpor dari luar, nah, hasil karya ciptanya bernilai ekonomi tinggi maka orang di daerah bisa melihat itu sebagai sebuah peluang dan keuntungan, dengan sendirinya mereka akan mempertahankan bahasa daerah sebagai aset yang bernilai ekonomis”, pungkasnya.

Hal senada disampaikan, Yanti,  instruktur asal Jakarta, bahwa kepunahan bahasa daerah itu sangat cepat, karena itu, baik peneliti maupun masyarakat perlu berlomba dengan waktu untuk mendokumentasikan dan melestarikan bahasa daerah.

“intinya, kita mencoba berbagi pengalaman dan pengetahuan serta skill kita, dengan harapan teman-teman yang sudah ikut workshop, paling tidak menjadi pelopor di daerahnya untuk mendokumentasikan bahasa masing-masing”, ungkapnya.

Peserta workshop mempresentasikan hasil kerja kelompok, diawasi Ibu Yanti (Instruktur)

Seorang peserta workshop, Seprianus Oematan, mengatakan, workshop yang diselenggarakan benar-benar sangat bermanfaat, serta membuka wawasannya sebagai anak daerah, bahwasanya, bahasa daerah merupakan warisan yang paling mahal yang harus dijaga dan dilestarikan eksistensinya.

“Dua hari ini kita mendapat ilmu secara gratis, dan saya sendiri merasa bangga sekaligus terharu dimana kita anak NTT tidak peduli dengan bahasa daerah kita tetapi ternyata ada orang Amerika yang peduli dan ingin untuk meneliti lebih jauh, ini tentu menjadi motivasi bagi kami untuk menjaga dan melestarikan budaya daerah kami”, ujar Sepri.

Dia berharap, pemerintah dalam hal ini dinas pendidikan dapat membuat program yang bersinergi dengan para peneliti dan komunitas-komunitas yang peduli terhadap bahasa dan budaya lokal agar dapat bersama-sama menjaga dan melestarikan keanegkaragaman bahasa dan budaya daerah.   (nyongky)

 

 

 

 

 

 

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top