Berita Utama

Johanis Ottemoesoe : Pemimpin Harus Bisa Merasa, Bukan Merasa Bisa

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

KUPANG, METROTIMOR.COM– Demokrasi di Nusa Tenggara Timur (NTT) semakin berkembang dengan baik. Namun apakah demokrasi melahirkan pemimpin yang berkualitas dan Humanis? Ataukah demokrasi yang berjalan saat ini hanyalah menjalankan sebuah prosedur.

Hal tersebut tentu menggelitik setiap pelaku demokrasi, baik pemilih maupun calon pemimpin yang hendak berlaga dalam percaturan politik, agar tidak hanya melaksanakan sebuah prosedur tetapi benar-benar mencari pemimpin yang amanah dan memiliki kepekaan terhadap pembangunan, ekonomi dan kemasyarakatan.

Mendengar kata politik, maka akan terbersit kata ”politikus”, banyak orang sontak mendadak mual. Yang terbayang adalah monster-monster yang merampok uang negara. Apakah itu dikarenakan demokrasi yang belum dewasa?

Johanis Silvester Ottemoesoe, seorang bakal calon (balon) wakil bupati di Kabupaten Kupang, kepada awak media, baru-baru ini, mengatakan, Ia bukan seorang politisi tetapi terpanggil untuk melayani masyarakat di daerah itu.

“Pemimpin harus memiliki “sikap bisa merasa”, bukan “sekedar merasa bisa”. Oleh karena itu, siapa saja anak bangsa yang ingin tampil dalam kepemimpinan di daerah ini , harus menyadari bahwa memimpin adalah melayani rakyat bukan sebaliknya”, ujar John, begitu Ia akrab disapa.

Putra terbaik Amarasi ini mengingatkan, agar masyarakat Kabupaten Kupang harus jeli memilih pemimpin, pasalnya, dengan adanya kebebasan dalam demokrasi semua mencalonkan diri menjadi pemimpin, hingga sulit melihat mana pemimpin ideal.

“Ambisi besar kadang menjadi modal satu satunya. Pemimpin yang demikian tentu akan menggunakan cara-cara kurang terpuji guna mencapai “puncak tujuannya”, saya tidak mengatakan saya dan pak Silvester Banfatin terbaik tetapi kami (Paket TERKINI) hadir untuk mendengar, merasakan dan melayani masyarakat Kabupaten Kupang “, ungkap Suami dari Dewi Marlina Ani Bolodadi, ini merendah.

Lebih lanjut, Pria kelahiran Amarasi, 12 Juni 1969 ini, mengatakan, Ia meletakkan cinta sebagai prinsip dasar dalam berkarir. Menurutnya, sesulit apapun sebuah pekerjaan jika dikerjakan dengan penuh cinta dan tanggung jawab maka hasilnya akan maksimal.

“Yang dibutuhkan untuk hidup di dunia ini adalah kerendahan hati, Saya yakin jika rendah hati pasti akan berhasil dan sukses”, jelasnya.

Mantan Atlet pada cabang olahraga atletik ini mengatakan, manusia boleh berencana untuk melakukan berbagai hal, namun sang khalik, pemilik hidup dan kehidupan, yang punya otoritas untuk menentukan segalanya terjadi.

“Dalam segala aktivitas, kita tidak boleh lupa Sang Pencipta. Saya selalu menyediakan waktu untuk merenungi kehidupan, untuk mengoreksi diri, dan berserah pada Nya, karena saya meyakini bahwa semua yang terjadi di muka bumi ini adalah kehendak Nya”, pungkas ayah dari Enzo Francioli, mengakhiri. (Nyongky)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
RoteOnline Google Play
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top