Berita Utama

Tenun Ikat dan Senyum Manis Waitress Kafe J20 Oesapa

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

KUPANG, METROTIMOR.COM— Dibalik keindahan Pantai Oesapa, ternyata terselip kekayaan budaya masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT), lewat lembaran selendang tenun ikat yang melilit indah pada tubuh mungil setiap waitress (Pelayan-Red) di Kafe J20.

Kafe yang terletak di pesisir pantai Oesapa, Kota Kupang ini, tertata rapih dengan meja bundar dikelilingi kursi rotan dan dilindungi payung aneka warna, begitu semarak dan mempesona.

Tak heran jika Kafe yang dibuka setiap jam 4 sore sampai jam 1 malam ini, selalu ramai dikunjungi, baik oleh remaja yang ingin menikmati angin laut sambil memadu kasih, atau yang sekadar melepas penat sembari melahap indahnya sun set (Matahari terbenam-red).

Kasir kafe J20, Irene

Di bawah belaian lembut jemari sang senja, gadis-gadis cantik berselempang kain tenun Ikat asal NTT, ramah melayani para pengunjung yang menikmati liarnya ombak yang berkejaran.

Tak hanya deburan ombak dan desiran angin laut, tetapi alunan life musik berbagai gendre selalu memanjakan telinga para pengunjung, bahkan sesekali Irama dangdut, semisal lagu Sayang milik Via Valen seakan menggoda pengunjung untuk ikut bergoyang.

Ah… J20 memang pandai mengusik rasa dan melambungkan imajinasi. Kadang pengunjung dibikin “baper” (terbawa perasaan), lantaran lagu-lagu melankolis nan galau diperdengarkan.

Itulah alasan mengapa banyak pengunjung rela menghabiskan waktu berjam-jam di Pantai penuh inspirasi itu.

Pemilik Kafe J20, Daniel Henuk

Pemilik Kafe J20, Daniel Henuk, kepada awak media, Kamis (9/11/2017), mengatakan, setiap daerah memiliki ciri khas, karena itu, Ia ingin pantai Oesapa khususnya Kafe J20 memiliki kekhasan tersendiri yang bernuansa budaya.

“Di sini kami ingin menunjukkan ciri khas budaya NTT, kain tenun ikat merupakan budaya leluhur yang perlu kita lestarikan dan promosikan, karena itu karyawan saya harus menggunakan selempang kain tenun ikat NTT. Kedepan karyawan saya akan menggunakan rompi tenun ikat”, ujar Daniel bersemangat.

Dia menjelaskan, menu yang disiapkan Kafe J20 tidak kalah bersaing dengan menu yang ada di Kafe dan hotel berbintang.

“Disini cukup dengan Rp. 10 ribu, sudah bisa menikmati kopi Vietnam, kalau di tempat lain sudah bisa sampai ratusan ribu rupiah, ini namanya menu bintang lima, harga kaki lima”, tandas Daniel.

Menurut Daniel, saat ini Kafe J20 sudah mempekerjakan 11 orang. Sementara omset Kafe J20 rata-rata 3 juta rupiah per hari.

” Kalau hari Jumat, Sabtu, minggu dan hari libur bisa mencapai 8 sampai 10 juta rupiah “, ungkap Daniel.

Melihat kondisi pantai yang sudah semakin ramai dikunjungi, Daniel berharap pihak keamanan agar meningkatkan pengamanan di lokasi wisata pantai Oesapa.

“Kami minta polisi yang ada di pospol Sering-sering kunjungi kami, jangan lepas begitu saja, nanti terjadi yang tidak enak baru datang”, pinta Daniel. (Nyongky)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
RoteOnline Google Play
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top