Berita Utama

Miris! Sejumlah Mahasiswa PNK Terancam di DO Lantaran Gelar Upacara HUT RI Ke 72

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

KUPANG, METROTIMOR.COM– Haruskah perjuangan melawan tirani penguasa dibayar dengan harga yang mahal? Entahlah. Namun pertanyaan sekaligus pernyataan tersebut mewakili situasi yang cukup mencekam di kampus Politeknik Negeri Kupang (PNK) pasca digelarnya upacara bendera memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke 72, tanpa kehadiran Direktur dan seluruh pihak rektorat.

Merasa terusik dengan pemberitaan yang dilansir media ini, Kamis (17/8) dengan judul, “Direktur Sibuk, Mahasiswa PNK Gelar Upacara ditonton Humas dari Pos Satpam,” Direktur PNK, Nonce Farida Tuati, melalui Ketua Program studi Akuntansi sektor publik, Zainudin Adang Djaha, setelah penutupan pendidikan awal (Dikwal) bagi mahasiswa baru, Sabtu (19 /8), mengumpulkan semua mahasiswa yang ikut dalam upacara tersebut, kemudian menyampaikan beberapa hal yang katanya pesan dari direktur, tetapi Ironisnya, penyampaian tersebut terkesan mengintimidasi.

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PNK, Krispianus Naiwona, didampingi beberapa orang pengurus BEM, kepada awak media, Senin (21/8/2017), menceritakan ihwal ketegangan di kampus PNK pasca Upacara HUT RI Tanpa Direktur.

Dia mengatakan upacara HUT RI ke 72 yang dilaksanakan, Kamis (17/8) merupakan sebuah spontanitas, murni dorongan jiwa dan tidak ditunggangi pihak manapun.

“tidak ada seorang pun meminta kami menggelar upacara pada tanggal 17/8, kemarin, itu niat tulus kami”, ujar Kris.

Menurutnya, hal tersebut merupakan bentuk kecintaan terhadap NKRI dan penghargaan atas jasa para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, tanpa kepentingan apapun.

Namun, Dia menyayangkan ketulusan itu seakan merupakan momok yang menakutkan sehingga pihak kampus mendesak mereka (mahasiswa-Red) untuk segera meminta maaf kepada Direktur dan melakukan klarifikasi melalui media bahwa aksi yang dilakukan adalah salah, dan pernyataan yang dikeluarkan adalah bohong.

“Mereka memberikan waktu kepada kami waktu 2 x24 jam, mereka mendesak kami untuk meminta maaf melalui media bahwa segala pemberitaan dan pernyataan kami adalah bohong, selain itu kami juga harus minta maaf kepada ibu direktur dan pihak keluarga karena namanya terdapat dalam berita kemarin. Jika dalam waktu yang ditentukan kami tidak melakukan apa yang diperintahkan maka kami di drop out (DO),” jelas Kris.

“kami merasa bahwa kami tidak melakukan kesalahan, kami menyampaikan hal yang benar-benar terjadi saat dikonfirmasi media, tapi kalau kami gelar Upacara dan itu salah maka kami juga bingung salahnya dimana ? ” imbuhnya.

Kekson Salukh, Seorang mahasiswa yang juga merasa terancam mengatakan, Ia merasa bingung dengan sikap lembaga yang menuntut mahasiswa meminta maaf, bahkan menurutnya, selama dua hari Ia dan teman temannya menunggu di kampus, bahkan wartawan juga turut menunggu namun direktur atau pihak yang berkompeten tidak hadir pada saat yang ditentukan pihak kampus.

“Kalau memang ibu merasa dirugikan maka hadir di kampus untuk kita berdiskusi. Karena selama 2 hari kami menunggu di Kampus tapi ibu direktur tidak datang hanya ancaman yang datang trus siapa yang harus disalahkan? Jika pernyataan kami di media itu keliru kami ingin tahu dimana letak kesalahannya, apakah karena upacara itu sebuah kesalahan?” tutup Kekson penuh tanya.

Direktur PNK, Nonce Farida Tuati, selama 5 hari dikonfirmasi awak media tetapi selalu tidak berhasil karena tidak hadir di kampus. Selain mendatangi kampus, awak media mencoba menghubunginya melalui sambungan telepon pada nomor yang diberikan oleh bagian Humas PNK, yakni 085220082**5.

Jawaban dari balik telepon, “nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar Jangkauan”.

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
RoteOnline Google Play
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top