NEWS

Pro Kontra Kebijakan 5 Hari Sekolah di NTT

Want create site? Find Free WordPress Themes and plugins.

KUPANG, METROTIMOR.COM– Ketika kebijakan lima (5) hari Sekolah diluncurkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, nomor 23 Tahun 2017 tentang Hari Sekolah, terjadi pro kontra di dunia pendidikan. Hal tersebut bergejolak hingga pelosok Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sebelum kebijakan tersebut secara global diberlakukan di Sekolah di NTT, Dewan pendidikan provinsi NTT menggelar seminar sehari membedah kebijakan pendidikan lima (5) hari Sekolah di Aula Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) NTT, Selasa (8/8) pagi.

Gubernur NTT, Frans Lebu Raya, dalam sambutannya saat membuka seminar mengakui masih terdapat berbagai masalah di bidang pendidikan yang harus terus dikerjakan dan diselesaikan.

Menurut Lebu Raya, saat ini, pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Rendahnya mutu pendidikan di NTT, sering hanya disoroti dari prosentase kelulusan saja.

“Untuk itu, kita tidak boleh pesimis, harus optimis dalam meningkatkan prosentase kelulusan. Proses belajar-mengajar harus menjadi perhatian serius dengan menonjolkan proses yang berkualitas,” pinta Lebu Raya.

Kata Gubernur, memajukan pendidikan pasti ada input, proses dan output. Karenanya, proses itu harus dilaksanakan secara berkualitas dan menghasilkan output yang sesuai dengan harapan semua pihak. Gubernur Lebu Raya, mencotohkan pengalamannya dalam mengamati proses pendidikan yang selama ini diterapkan bila menghadapi ujian akhir yaitu dengan mempelajari soal-soal ujian tahun lalu, fotocopy bahan pelajaran dan hafalan.

“Apakah itu cara terbaik? Menurut saya tidak. Kita harus berupaya agar proses kegiatan belajar-mengajar harus kita kerjakan sebaik-baiknya, selama tiga tahun berturut-turut atau enam tahun berturut-turut untuk tingkat sekolah dasar, dalam membentuk karakter dan disiplin anak-anak sehingga kita yakin betul dapat menghasilkan anak didik yang lebih berkualitas, melalui proses belajar dan mengajar secara berkualitas pula,” pinta Gubernur

Dikatakan Lebu Raya, ketika muncul gagasan lima hari sekolah, memang menjadi polemik, apakah tetap enam hari atau lima hari sekolah.

“Kita tidak boleh larut dalam perdebatan polemik ini, mari kita ambil hikmahnya yang lebih baik. Peraturan lima hari sekolah tentu tidak bisa serentak dilaksanakan di seluruh NTT. Kita harus sesuaikan dengan kondisi setempat,” tegas Lebu Raya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Provinsi NTT,  Minhajul Ngabidin, mengatakan langkah yang sudah diambil adalah melakukan sosialisasi ke seluruh pelosok di NTT.

“jadi 5 hari Sekolah itu bukan semata memindahkan 6 hari menjadi 5 hari tapi yang ingin dicapai adalah bagaimana upaya penguatan pendidikan karakter dapat dilaksanakan menjadi lebih efektif”, jelas Minhajul.

Menurutnya, pelaksanaan 5 hari Sekolah dikembalikan kepada sekolah untuk secara kreatif melaksanakan sesuai kebutuhan sekolah.

“kita rekomendasikan agar sekolah menyiapkan layanan pendidikannya itu 5 hari, jadi nanti kreatifitas kepada masing-masing sekolah, jadi tidak harus persis jam 7 pagi dimulai pulang jam 5, misalnya SD, yg SD struktur kurikulum lebih sedikit dari SMP maupun SMA, jumlah menit dalam 1 jam pelajaran juga lebih sedikit, jadi tidak harus plg jam 5, semua dikembalikan ke sekolah, intinya pelaksanaan kegiatan sekolah 5 hari, tidak harus sampai sore”, jelas Minhajul.

Ketua Dewan Pendidikan NTT, Simon Riwu Kaho, mengatakan, Setiap kebijakan yang bertujuan merespon berbagai kemajuan perkembangan dan perubahan akan cenderung akan direspon berbeda oleh setiap pihak, ada pihak yang mendukung dan ada yang menolak dengan argumentasi yang logis, pada hakekatnya setiap kebijakan itu penting dan baik untuk mencapai tujuan pendidikan yakni membuat peserta didik menjadi cerdas, jujur, tangguh, tanggap, disiplin, memiliki tekad yang kuat dan mandiri.

“Kebijakan 5 hari Sekolah seperti yang tertuang dalam Permendikbud nmr. 23 tahun 2017, bertujuan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya waktu untuk persiapan sekolah, peserta didik dan semua sumber daya sekolah menuju pendidikan karakter dan optimalisasi peran sekolah”, jelasnya.

Lebih lanjut Dia mengatakan, Kebijakan 5 hari Sekolah dapat dipandang sebagai salah satu solusi untuk mewujudkan tujuan pendidikan, namun akan menjadi masalah apabila persyaratan pendukungnya tidak atau belum terpenuhi. Seperti sarpras yang belum memadai, guru dalam jumlah maupun kapasitanya, kurikulum belum mengikuti perkembangan.

Pantauan media, peserta seminar menyepakati dilaksanakannya kegiatan 5 hari Sekolah dengan catatan tidak harus seragam tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing sekolah di NTT. (Nyongky)

Did you find apk for android? You can find new Free Android Games and apps.
RoteOnline Google Play
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Terkini

To Top